Postingan

Menolak Passion

Waktu kuliah saya orang yang lumayan aktif mengikuti seminar atau diskusi tentang pengembangan diri. Hampir semua pemateri ketika ditanya "Bagaimana supaya bisa berkembang dan bisa menjadi orang yg menginspirasi atau bermanfaat?" "Bagaimana saya dapat menemukan kelebihan dalam diri saya?" Pertanyaan ini brengsek sih.  Hampir semua narasumber menjawabnya "Kamu perlu menemukan passion mu". Mendengar jawaban mereka saya termotivasi untuk terus mencari sebenarnya saya suka apa sih? Motivasi besar saya jadi apasih? Saya menggali dan terus memahami diri saya, lebih condong ke mana?  Jawabannya sampai sekarang belum bisa saya jawab. Jadi penulis bukan passion saya, peneliti juga bukan, publik speaking juga bukan.  Biar lebih jelas, jelaskan dulu arti Passion secara sederhana dengan bahasa manusia. Jadi secara singkat, passion adalah sebuah keinginan untuk melakukan sesuatu dengan motivasi, keinginan, dan antusiasme tinggi. Bisa dikatakan dengan emosi yang sama-sa...

Kebijaksanaan Berpikir

Gambar
Benar belum tentu bijaksana. Sebuah ungkapan yang menarik. Begitu banyak diantara kita merasa selalu benar dan kebenaran itu kadang tak mampu melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pelajar atau mahasiswa. Saya sepakat dengan Pram (dalam bukunya Bumi Manusia) bahwa seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.  Dari Pram kita belajar kebijaksanaan berpikir. Begitu banyak orang-orang yang pernah berada diruang akademik dan yang masih diruang akademik tidak memiliki kebijaksanaan. Ketika melihat suatu masalah atau informasi langsung menjustifikasi, tanpa mencari tahu kebenaran dari masalah tersebut, apakah benar atau salah. Nah, itu perlunya kita harus adil dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Kita kroscek dulu informasinya sebelum menilai. Apalagi kita berada di era Propaganda yang terus dilakukan, hoaks yang tersebar tak terbendung, dan disinformasi. Dalam mengatasi itu semua kita perlu yang n...

Yang Hilang dari Mahasiswa

Gambar
Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang pernah berada di dunia akademik memiliki nalar berpikir yang dangkal. Analisisnya mentah dan tak dapat kita percaya.  Ini sebenarnya otokritik bagi saya dan orang-orang yang ada diruang akademik. Kemampuan berpikir kita masih kurang. Kita sekarang bermental validasi sehingga kita melupakan belajar berpikir yang baik dan benar.  Mental Validasi? Iyah. Mental yang ingin diakui. Kita berada di titik itu.  Kita sebut aja mahasiswa. Saya sebagai mantan mahasiswa sering menemukan mahasiswa yang bermental validasi, dan mungkin berlaku juga bagi saya. Validasi diri ini dapat kita lihat dari media sosialnya. Mereka memposting sesuatu yang keren, baik secara intelektualitas, aktivis, event organizer, dan kemampuan lainnya. Padahal sejatinya, mereka tidak seperti itu. Hanya modal postingan. Mental ingin diakui atau terlihat kadang membuat kita lupa pada hal yang esensial.  Dari hal demikian membuat kita jarang belajar, jarang upgrade dir...

Dialektika Perasaan

Putus, kata yang telah menunjukkan berakhir atau berpisah sebuah hubungan. Tapi bukan berarti cinta juga putus.  Saya kira putus hubungan membuat kita tidak lagi saling berhubungan satu sama lain. Ternyata saya salah. Sampai sekarang cerita hubungan terus ada.  Burung Merpati datang dalam mimpi saya, merpati itu tidak membawa pesan lewat surat tapi merpati cuman membawakan cermin yang besar. Saya mengambil dan melihat wajah saya, buruk, buruk sekali rupa saya.  "Cermin dari siapa ini?" Tanya saya pada burung merpati dengan rasa penasaran. "Dari mantan kamu", jawabnya. "Mantan?",  "Iya. Si In", jawabnya lagi.  Setelah nama itu disebut saya langsung terbangun dari tidur dan mimpi yang semi buruk itu.  Saya memulai dengan sebuah analogi yang menarik. Bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Mimpi perspektif dari orang yang selalu benar. Saya menghargainya. Mari kita mulai dialektika perasaannya. **** Jika memang saya memiliki kelemahan dan kekurangan ...

Kereta Cinta belum Sampai

Gambar
  Aku ingat sekali, tepat pada tanggal 11 Oktober aku mengantarnya di pelabuhan. Semalam suntuk kami bercerita tentang kehidupan, hubungan, kuliah, masa lalu, dan tentunya cinta juga. Dua insan yang saling mencintai itu duduk berdua yang ditemani oleh bintang-bintang gemerlapan, kemesraan keduanya membuat semua ciptaan Tuhan bertasbih untuk memuji kekuatan cintanya.  Aku percaya bahwa malam perpisahan itu sangat menyakitkan, dibalut dengan canda yang pilu seolah tak ada kesedihan yang menghantui diriku yang akan ditinggalkan.  Pukul tiga belas lewat lima belas menit untuk berangkat ke pelabuhan untuk mengantarkan dia yang akan melanjutkan studinya.  Tak seperti kisah "Kabhi Alvida Naa Kehna" di mana pertemuan Dev dengan Maya tak disengaja lalu saat mereka berpisah tidak diakhiri dengan selamat tinggal, karena mereka meyakini suatu saat akan bertemu lagi, artinya tidak ditutupi dengan "selamat tinggal". Aku siang tak pernah berpikir seperti yang ada dalam mulut kami ...

Penumpang Gelap

 “Luka dibalik Meleburnya BEM-SI” Pukul 14: 27, saya dan Mas Adit berangkat dari Universitas Negeri Yogyakarta menuju Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk mengikuti aksi penolakan Pak Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) yang diundang oleh rektorat UMY sebagai pembicara bersama Pak Anis Baswedan (Gubernur Jakarta) dalam acara yang bertajuk “Government Gathering On Good and Green Governance”. Dalam acara ini, Pak Anis tidak bisa hadir, Pak Anis hanya tampil melalui Video Conference. Saya sendiri tidak tahu kenapa pak Anis tidak bisa hadir dalam acara tersebut. Sesampai di UMY, kami melihat teman-teman Aliansi UMY Bergerak dan beberapa teman-teman dari BEM-SI yang bergabung dalam aski tersebut sedang berkumpul untuk melanjutkan aksi. Selain penolak terhadap Gubernur Jateng tersebut sebagai pembicara, Aliansi UMY Bergerak juga membawa beberapa tuntutan, termasuk ada tuntutan dari Aliansi BEM-SI. Kami merasa Pak Ganjar gagal memberikan kenyaman untuk masyarakat Jateng. Sebelum be...

Kelabu

Seperti biasanya. Setiap mahasiswa yang kuliah luar daerah, memiliki rasa rindu terhadap kampung Halamannya. Sama sepertiku, Aku kuliah di Jogja. Di mana orang-orang namainya Kota Pendidikan. Aku pun mengiyakan. Iya benar, Jogja Kota Pendidikan.  Sepulang dari Riau, Jogja melakukan lockdown. Rasanya dunia sepi kala itu. Teman-temanku udah pada pulang kampung. Sementara aku duduk di kamar, yang setiap hari memandangi tembok berwarna biru yang sudah mulai kusut. Kegiatanku, tidur, makan, main HP dan nonton film di laptop, ibadah, kadang masak, keluar masuk toilet, ngepel Masjid. Kadang gak pernah lihat matahari, serasa dunia ini tak berputar, tak ada detik, jam, pagi, siang, sore, malam. Lalu apa yang tepat untuk menamainya? Aku tanya kucing, dia tak tahu, aku tanya tetangga juga gak tahu. Yaudah, aku menamai masa itu, dengan masa Kelabu.