"08 : Ncengga"

Iluatrasi : Internet

"08 : Ncengga"

“Jangan kau nodai ‘Cinta’, karena ‘Cinta’ bukan kenapa dan mengapa. Hanya ada satu kata yang mampu menyamai makna ‘Cinta’, yaitu ‘Ikhlas’. Menerima tak bersyarat dan melepas tak mengungkit. Itulah Cinta yang sejati.”___ Van MK.
Seringkali kita mengatakan ‘cinta atas nama-Nya’. Kita kadang lupa bahwa semua itu adalah Nafsu belaka. Detakan jantung telah menyelimuti rasa ikhlas atas naman Cinta. Dilema oleh rasa yang tak berwujud, apakah kita akan mengungkapkan atau tidak? Perihal ini yang menjadi tanda tanya buat kita yang sedang dilanda oleh rasa yang abstrak.
Mengatakan cinta pada seseorang suatu hal yang mudah, namun untuk komitmen menuju kepada Jalan-Nya suatu perihal yang amat sukar. Dulu waktu dalam suasana mabuk asmara, aku mencoba belajar menenggelamkan rasa dan cintaku pada seorang perempuan. Aku mengarungi samudera cinta bersama bahtera asmara, rasa suka dan dukan telah menjadi pelangi dan manik-manik dalam hati. 
"Apakah adek siap untuk nikah, muda?" Ujar aku dengan sedikit becanda, aku hanya ingin mengetes sejauh mana rasa cinta dia padaku. "Gak mau bang, saya bukan orang gila" balas dia, dengan tertawa menolak mentah-mentah pertanyaan konyol itu.
Jawaban itu semakin membuatku mabuk pada rasa yang belum tentu arah dan tujuan ini. Dia adalah adik kelasku. Sebelum aku dekat sama dia, aku sama sekali tidak ingin menjatuhkan hati dan perasaanku terlalu dini. Bagiku saat itu adalah sekolah dengan baik, memberikan prestasi terbaik untuk sekolah dan keluarga tercinta.
SMA-ku Madrasah, mata pelajar agama Islam alhamdulillah semuanya ada, sebut aja Akidah Akhlak, Fiqih, Al-Qur'an dan Hadits, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Sebenarnya mata pelajaran itu sudahku dapatkan waktu di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Bukan suatu hal yang baru dan asing bagiku mengikuti mata pelajaran agama Islam. Dalam pelajaran itu ada jung yang membahas tentang "larang tentang Zina". Sebut saja Surat Al-Isra' ayat 32 tentang larang untuk mendekati Zina.
Pacaran adalah salah satu akhlak yang mendekati Zina dan selalu dibahas dalam proses belajar mengajar. Bahkan aku sering menggunakan dalil itu untuk melarang teman-temanku untuk berpacaran. Awalnya, aku sangat anti akan pacaran, mungkin karena tidak pernah merasakan cinta monyet. Setelah aku coba, ternyata sangat menguras keringat. Hehehe
Dia adalah Stafku dikepengurusan Osis, awalnya aku tidak pernah sms atau Chat cewek kalau tidak penting, aku termasuk orangnya cuek. Aku tidak pernah menyangka dia bisa jatuh cinta padaku. Aku juga tidak pernah sms duluan dia atau cewek yang lain pada umumnya, kalau tidak ada keperluan. Tapi awalnya dia memang sering sms aku, nanya lagi apa, udah makan dan lain-lain. Rasanya malas buat balas sms yang setiap hari pertanyaannya sama gitu.
Suatu ketika dia mengirim kata-kata yang isinya tentang pilihan, sekitar ada 19 pilihan yang harus aku pilih. Aku tidak memilihnya, tapi aku malah kirim balik pesan itu, kira-kira dia akan memilih yang mana buatku. Dia memilih salah satu nomor dan kalimatnya yang tidak pernah ku sangka. "Aku punya perasaan sama kamu" Itu bunyi kalimat pilihan dia untukku. "PD bangat dek" balas aku dengan sedikit becanda. Tapi dia malah anggap itu serius, sehingga membuat dia tidak enak dan merasa malu, dia merasa aku menolak perasaannya. Tapi memang saat itu, aku tak pernah berpikir untuk menjatuhkan hati ini dengan begitu cepat. Setelah melihat balasanku, dia pergi tanpa pamit dan tak pernah sms-ku lagi. Selama satu minggu tidak kabar dan aku tak mencarinya. Tapi sebenarnya aku sama sekali tak tahu, kalau dia jatuh hati padaku.
Setelah seminggu gak ada kabar. Akhirnya dia datang sendiri, sms-ku menanyakan kabarku. Saat itu, dia sms aku seusai Maghrib dan mengirim ulang pesan yang dia seminggu yang lalu. Secara spontan aku membalas sms-nya "Aku ingin menembak kamu". Aku membalas pesan dia dengan iseng-iseng dan hanya untuk menjawab atas pertanyaan teman-temanku selama ini. Karena teman-temanku sangat berharap aku mau pacaran. Aku menunggu balasannya, namun malam itu dia lelah mungkin lalu ketiduran, sehingga tak membalas sms-ku.
Bersama mentari pagi, ku membuka jendela kamar kosku, sambil melirik matahari yang menyingsing di ufuk timur. Sinaran mentari memasuki pori-pori kulitku. Kicauan burung tetangga menjelma menjadi alunan melodi asmara. Anak sekolah, mahasiswa dan para karyawan mondar-mandir dengan pakian ala lokal. Iyah betul, ala lokal, karena hari itu adalah ulang tahu Kota, yaitu tanggal 08 April 2018. Aku membuka HP Nokia hitam kecilku, berharap ada balasan dari dia. Detakan jantungku menutup suara Drumband yang dimainkan oleh para pelajar di jalan raya.
"Kok, bisa ingin nembak saya" Balas dia, dilayar hp yang mungil tidak bercahaya itu, dia seolah terkejut dan terheran-heran atas perilaku ku. “Biar kamu mati dalam pelukanku” candaku dalam keseriusan. Mata ku terbinar-binar melihat balasannya. Karena bagiku dia orang yang pertama aku nembak untuk menjadi seorang kekasih ditengah gelap dunia remaja. "Iyah Dek, Serius, Abang mau membak kamu" lanjut aku, sambil jalan untuk merayakan hari ulang tahun kota.
"Maaf, bang. Untuk saat ini saya ingin fokus hafal Al-Qur'an dulu" ujar dia di hp mungilku. Aku bingung mau balas apalagi. Terlintas dalam pikiranku, bahwa selama ini aku tidak pernah mengganggu dia, baik hafalan, belajar atau aktivitas yang lain. "Emang selama ini abang pernah ganggu hafalan kamu?" balasku, dengsn sikap tegas untuk meyakinkan dia bahwa aku layak untuk menjadi orang yang suatu saat beridiri didepannya dan tanganku menjadi tangan pertama yang ia raih seusai ibadah. Heheheh. "Emang tidak ada sih" kata dia. Setelah sms sepanjang jalan dalam perayaan hari ulang tahun kota, tibalah saat dia menyerah dan menerima cintaku. Sedikit bangga dengan diriku karena mampu meyakinkan dia untuk menjadi batang hati yang akan melahirkan buah hati, walaupun pada saat itu aku masih iseng-iseng.
08 adalah kode pertemuan antara dua insan yang kian lama menjadi manusia asing, kemudia menghancurkan hijab-hijab pemisah, sehingga bertemulah dua insan yang asing itu dalam sebuah ikatan yang bernama 'Pacaran'. Alam telah menyaksikan permulaan hubungan kami dalam keadaan bisu tanpa menegurnya. Itulah yang dimaksud dengan saksi bisu. Matahari pun bersembunyi lalu langit berubah menjadi mendung, air laut mengalami evaporasi, hujan bersama angin kencang, saura petir yang berkilat, dan alam serta isinya berhenti sejenak untuk menyaksikan dahsyatnya pertemua dua insan itu.
Lembaran asmara baru dibuka, tinta hitam mengotori kertas putih polos yang melukiskan kisah cinta tak berhalaman. Kapan dan sampai kapan hubungan itu akan berakhir, Entahlah. Biarkan lembaran yang tak berhalaman itu bercerita sejenak, tinta bersama kertas akan menjadi teman setia untuk menghitung lembaran yang tak berhalaman itu.
Dia telah membui dan tenggelamkanku dalam lautan cinta yang hampa. Aku tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan seperti itu. 'Apakah ini yang namanya takdir?' Mungkin! ataukah hanya sebuah lelucon Tuhan atas hamba-nya? Itulah Tuhan, Tuhan maha Asyik.
Sejak tanggal 08 April 2018, aku memulai hubungan dengan dia. Hari-hari ku, hanya dihabiskan untuk menikmati indahnya lembaran baru dunia dalam dimensi pacaran. Membayangkan indahnya hari tua bersamanya. Rasa ini telah menyatu, kami bercerita banyak hal. Dia menceritakan awal hatinya menyelam, lalu bersemayam di istana hatiku. Sebelum pacaran sama aku, dia pernah dekat (Pacaran) dengan salah seorang yang sungguh mulia bagiku. Ustadz, itu panggilanku pada beliau. Beliau adalah salah satu siswa yang sangat taat, baca Al-Qur'an, Shalat malam, Dhuhah, dan sholat sunnah lainnya, serta puasa sunnahnya. Masyaa Allah. Sungguh mulianya beliau.
Aku tak menanyakan perihal kenapa mereka tak menjalin hubungan lagi. Mungkinkah karena alasanya untuk fokus pada Al-Qur'an seperti alasannya padaku? Bisa jadi dan bisa tidak. Dia tidak mencertikannya, semoga bukan karena aku. Aku tidak menanyakan terus perihal tentang mereka. Tapi yang membuat aku bertanya-tanya, kenapa dia bisa jatuh cinta padaku? Tenyata tanpaku sadari, Ada satu amalanku yang dia sukai, yaitu Shalat Dhuhah. Aku tak pernah berpikir, kalau dia akan jatuh cinta karena amalan itu. Aku hanya menjalankan Shalat Dhuhah karena-Nya dan Fadhilah-fadhilahnya, bukan kerena ingin mendapatkan cinta dan ingin dipuji oleh manusia. Aku hanya ingin jiwa yang hina ini, tetap berlayar bersama bahtera kehidupan dengan tenang. 
Jagat berhenti sejenak, lalu bergerak sesuai dengan porosnya masing-masing. Bumi bersama hamparannya menjelma menjadi dua insan. Itu artinya dunia telah menjadi milik kami berdua. Memang asmara mampu mengalahkan semuanya, rasa, rasa, dan rasa telah terbalut oleh cinta mendalam.
Cinta yang aku anggap iseng dan amatiran dulu, kini menjadi magnet yang terus menempel dalam memori dan sanubariku. Aku merasakan perubahanku dalam bergaul, bahkan dalam belajar pun mulai berkurang. Nyanyian melodi cinta terus menghantui hati dan pikiranku. Belajar terasa disekat oleh sempitnya ruang dalam dimensi bumi yang sempit pula. Cinta 'Pacaran' telah menyempitkan dunia yang tak berujung, bentangan lautan dan daratan tak berarti, jika cinta dalam artian 'PACARAN' menjadi ruang yang begitu nyaman atas segalanya. 

Hubungan aku dan dia, menjadi bahan cerita bagi masyarakat sekolah. Baik guru maupun siswa. Ada yang menolak, ada pula yang setuju. Ada yang sms aku "Kak masih pacaran sama dia? Pacaran itu gak baik loh kak, apalagi kalian itu sama-sama ‘alim." Aku sebenarnya sangat sepakat dengan pernyataan adek kelas ku itu, tapi apalah daya nurani telah terbalut oleh nafsu belaka. Dengan bangga aku membalasnya "Insyaa Allah, Kita orientasikan karena Allah, semuanya akan baik-baik aja dek". Mereka menyayangkan hubungan aku sama dia. Tapi banyak juga mendukung hubungan itu, bahkan dari guru-guruku. Bahkan Aku tidak lagi menghiraukan firman Allah 'jangan mendekati Zina'. Aku sering berdebat sama teman-temanku mengenai dalil itu, demi pempertahankan hubunga terlarang itu.
Kini usia hubungan kami telah beranjak dewasa, hubungan yang begitu indah di awal cerita, kini berubah menjadi kabut. Dunia terlihat berwarna abu-abu, jingga, ungu, dan bahkan hitam tak bercahaya. Sinaran mentari pagi tak mampu merayu-ku untuk bercengkraman dengannya serperti biasanya. Aku terlalu berharap akan cinta yang abadi, padahal aku tahu konsep cinta dan kehidupan yang abadi hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.
Matahari, bulan, bintang, dan segala yang gemerlap kehidupan, kini telah redup dalam duka lara yang mendalam. Aku mersakan kesedihan yang begitu dalam. Cinta 'pacaran' membuatku hancur. Aku sadar bahwa menjalin hubungan yang tak terikat sebuah akad. Maka sulit untuk komitmen atas nama ‘Cinta’ kepada-Nya. Setelah hubungan sama dia telah usai, ternyata banyak pihak yang senang dan adapula yang menyayangkannya. Entahlah,, apa yang mereka perebutkan atas hubungan yang terlarang itu.
Batang hati yang aku inginkan dulu, kini telah roboh oleh badai rasa yang tak terlihat. Tapi sejenak aku menyadari, batang boleh roboh, tapi akar tetap tegar dan tidak boleh meratapi kepergiannya berlebihan. Selama air mengalir, maka akar itu akan mampu menumbuhkan batang baru. Tapi Bukan untuk saat ini.
"Sekuat apapun manusia untuk memotong kukunya, tetap tidak mampu untuk melumpuhkannya". Seperti itu pula hatiku, nestap tidak akan pernah mampu membunuh nan melumpuhkan hati dan persaanku. Bairkan air itu mengalir untuk meyegarkan kembali hati da ingatanku. Saatnya aku hancurkan ratapan pilu itu, membangun semangat baru untuk cinta dan persaan baru. Aku hanya berharap Allah semoga mempertemukan kami dikemudian hari. 
Rasa cintaku sedikit demi sedikit mulai hilang, seiring berjalannya waktu. Ruang hampa telah tertutup bisingan kendaraan yang setiap hari menjadi manik-manik jalan raya. Riuhnya kehidupan manusia telah menyelemuti luka yang dulu ada.
Tibalah ujian akhir, semangat untuk melanjutkan kuliah sangatlah kuat, aku telah meninggalkan urusan cinta. Aku lulus di salah satu kampus terbaik yang ada Yogyakarta. Dengan juruan Sastra. Jurusan ini telah mengajarkanku untuk bersajak, menulis puisi tanpa harus dalam keadaan terluka. Sastra telah membuka mata batinku untuk menceritakan kisah cinta lewat karya. Artinya kisah cinta tidak harus lewat pacaran seperti ku lakukan dulu. Kini aku tahu cinta yang sebenarnya, yaitu cinta pada Sang pemilik yang abadi.
Aku telah merantau selama satu tahun di Yogyakarta. Aku tak pernah menghubunginya lagi. Terakhir ku hubunginya, pada tanggal 04 April 2019, dihari ulang tahunya. Saat itu, aku masih di Yogyakarta. "Mana Kadonya" balas dia, atas ucapan selamat dariku. Aku mengirim foto Al-Qur'an sebagai bentuk apresiasiku padanya. Entah sudah berapa Juz yang dia hafal, tapi seingatku dulu, dia sudah hafal lima Juz.
Aku sedang asyik menulis esai tentang ‘Realitas desa tak seindah yang diinginkan’. Tiba-tiba panggilan masuk dari teman seperjuanganku waktu di SMA. Beliau bercerita tentang apa yang sedang dia dengar. "Yang Sabar ya, Fath", pinta dia. Dia melajutkan ceritanya, cerita itu Dia dapat dari ayahnya. "Fath, Mantan mu mau nikah", sambil mengungkapkan rasa empatinya terhadapku. 

Awalnya aku sangat tidak percaya, karena tidak mungkin sosok yang aku kenal sebagai seorang perempuan yang taat, kini telah nikah atas nama 'Cinta yang Terpeleset'. Dengan jujur, aku tidak sakit hati atas kejadian itu, namun hanya kecewa dengan pilihannya. Nikah dini yang dia anggap gila dulu, kini ternyata benar-benar gila. Ironis memang.

“Treu Story”
Pasti pembaca yang terhormat nan mulia, mungkin dari tadi bingung dan bertanya-tanya dengan judul tulisan saya. Karena sama sekali tidak ada kata ‘Ncengga’ dalam tulisan saya. Saya memilih Judul “08 : Ncengga karena ditulisan saya, secara tersirat bermakna ‘Pertemuan dan Perpisahan’. Angka ‘08’ adalah Pertemuan seperti yang saya sebutkan dalam tulisan saya di atas. Sedangkan ‘Ncengga’ adalah sebuah kata yang saya ambil dalam Bahasa daerah saya (BIMA) yang artinya Pisah atau Perpisahan. Pertemuan dan Perpisahan adalah rumus kehidupan, maka kita gak perlu heran atas semua yang terjadi. Hadapi hidupmu dengan lucu, dan lucu haru serius, jika tidak serius maka tidak lucu. hehehe

Tujuan pacaran menurut Pidi Baiq adalah Berpisah atau Menikah.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pelajar bagi kita semua, “Bahwa cinta yang terlarang tetap terlarang, setiap cinta yang terlarang selalu berakhir dengan Tragedi Romantis. Kalau tidak berpisah dengan hormat, maka akan Bersatu dengan cinta yang terpeleset”


  03 : 42, Karang Malang, 20 January 2020

Fath MK



Komentar

  1. Weh . . Best sekali kak tulisannya... sampai2 prmbaca tertarik untuk terus menyelaminya hingga di penghujung kisah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menolak Passion

Kereta Cinta belum Sampai

Kebijaksanaan Berpikir