"Melawan Sepi"


Ilustrasi: Bernas.id

“Tak perlu kita tangisi sastra buruk yang pernah kita alami, biarkan itu menjadi sastra yang jahat. Itulah hidup! Hidup harus terus berjalan sesepi dan sejahat apapun dunia ini” _M. Aan Mansyur

Setelah sekian lama gak menulis tentang kegiatan setiap hari, kini saya harus mulai produktif lagi untuk menulis semua aktivitas saya. Memang menulis itu cukup menguras waktu, mungkin itu yang membuat saya selama ini tak mau menlanjutkan untuk menulis lagi. Benar apa yang dikatakan oleh M. Aan Mansyur dalam sebuah Novel yang berjudul Perempuan Rumah Kenangan “Menulis itu berperang melawan sepi”.

Lewat novel itu saya menemukan sahabat baru. Aan mengajarkan saya untuk bisa berteman dengan buku, pulpen, laptop, bahkan bersahabat dan mempacarinya. Sungguh  sungguh luar biasa. Walaupun tak bisa seperti Bang Aan, setidaknya saya punya teman bernama buku, pulpen, kompunter, motor merek 700 yang sangat langkah dan selayaknya sudah masuk museum, dan hp kecil yang kurang trend di era sekarang. Mereka semua adalah surga yang saya miliki di tanah rantuan.

Setelah memiliki mereka, saya tidak sepi lagi seperti dulu, kalau masa kelam saya pernah pacaran dengan manusia yang pada waktunya, kini sudah berbeda. Kebanyakan diatanra kita mengagungkan pacaran, seolah dunia ini tak ada artinya dan sungguh bajingan jika tak punya pacar. Mata kita akan terbinar-binar saat membuka pesan yang masuk, telinga kita menjadi beku saat mendengar untaian kalimat dari seseorang yang bernama pacar. Hari seolah bergerak dengan cepat pagi, siang, sore, dan malam semuanya sama, bahagianya bersama sang pacar, bahkan berharap hidup ini bisa abadi. Kita tak lagi mengenal waktu dan pukul, kapan makan, belajar, dan beraktivitas dengan lingkungan sekitar. Sungguh pacaran membuat kita hidup diatas kebahgiaan yang berlipat-lipat. Begitulah Utopisnya kehidupan kita yang menganggap pacaran adalah segalanya, sungguh jenakanya penuh tragedy. wkwkw

Bagi kita, orang yang tidak pacaran mungkin dianggap kolot, bahkan hidupnya kering dan tidak bergerak. Waktu seakan-akan berjalan dengan lambat, sungguh membosankan. Sungguh membosankan.

Apasih? Kok malah ngebahasin pacaran sih. Masalah pacaran gak pernah klaar “Ik ben moei melihat semua ini” Ik wil pergi di dunia yang utopis kek gini. sungguh saya tak lagi punya Indrukken untuk bahas itu. Stop to hier. 

Buku, pulpen, kompunter, hp, dan motor kini menjadi teman setia yang menemani saya. Motor merk 700 itu saya beri nama ‘Chan’ sebuah motor milik mas Awan orang Donggo. Chan menjadi sehabat yang selalu mengantarkan saya ke mana-mana dan tas saya tersimpan buku-buku sejarah, filsafat, dan sastra, serta ada pulpen dan buku kecil untuk nyatat hayat ini. Kadang buku-buku itu saya baca di tempat yang ramai saat ngopi atau ngumpul sama teman-teman organisasi. Sungguh, saya menemukan kebahagiaan ke mana-mana selalu didampingi oleh mereka.

Ada satu kisah yang menarik dalam novelnya Aan. Suatu ketika Ian tokoh laki-laki dalam novel itu melihat dua orang teman yang membawa tas besar seperti orang gila, Namanya Agung dan Andi. Agung sosok yang tinggi sedangkan Andi orangnya pendek, ketika mereka berjalan berdua, mata kita tidak bisa melihat kepalanya Agung, ketika kita melihat kepalanya Agung kita tidak bisa melihat Andi. Kedatangan mereka sangat dinantikan oleh perempuan-perempuan cantik yang ada kampus itu, perempuan-perempuan itu berkerumuh mendatangi dua orang itu. Andi dan Agung menyeimpan tasnya di atas lantai, lalu mengerluarkan buku-buku. Pantas mereka berdua di tunggu oleh para perempuan-perempuan itu, ternyata dipunggung mereka ada perpustakaan. Karena penasaran, Ian menghampiri dan berkenalan dengan mereka. Ternyata Andi dan Agung punya komunitas diskusi, Ian pun mengikuti mereka berdua. Dalam komunitas itu, mereka kadang diksusi tentang buku baru, evaluasi kegiatannya tadi, kadang-kadang diskusi tentang isu nasional.

Andi dan Agung adalah dua nama yang tidak asing bagi kita semua, nama itu seperti pasaran para kapitalis di negeri ini, tapi aktivitas mereka sunggung luar biasa dan langkah, sungguh saya sangat mengagumi mereka. 

“Perpustakaan itu, aku melihatnya seperti Surga”. Kata Ian, laki-laki yang hidupnya sepi sedari kecil, dia hanya punya teman yaitu neneknya dan gadis kecil bernama hujan.

“Aku selalu membayangkan surga seperti Perpustakaan” kata Jorgers Louis dalam sebuah novel.

Sungguh saya tidak bisa membayangkan betapa bodohnya diri saya yang sedari kecil tidak pernah bercakap-cakap atau bercegkraman dengan buku. Sungguh, saya telah melukiskan sastra yang buruk dalam hidup ini. Ketika saya kuliah dan bertemu dengan teman-teman yang cinta dengan buku. Lagi-lagi saya menyesali dengan masa lalu yang begitu kering.

Alam tidak pernah menegur kebodohan yang singgap dalam diri saya. Alam hanya memindahkan dunia saya untuk belajar, lalu bertemu dengan orang-orang gila pada buku. Saya merasa menjadi bukan apa-apa di tengah hamparan kebijaksanaan semesta.

“Jika waktu dan kenangan adalah layang-layang sudahku gulung benang-benangnya, lalu kungunting bagian yang tidak kuinginkan”. Semua itu mustahil untuk saya lakukan. Ah, sungguh bodohnya diri ini, kenapa harus mikirin masa lalu yang jahat seperti itu.

Walau sejahat itu sastra saya tulis dulu, tapi itu menjadi sastra menarik untuk lihat dan dibaca. Ada satu orang perempuan yang sangat saya kagumi, beliau bukan pacar saya, eh! Kok malah mikir pacar sih. Iya, perempuan itu selalu mengajarkan saya banyak hal. Perempuan itu tidak pernah merasakan indahnya sekolah formal seperti yang saya rasakan saat ini. Dengan keterbatasan pengetahuannya, perempuan itu sangat lihai dalam menyuguhkan rangkaian kisah.

Saya baru sadar, walaupun perempuan itu tak pernah menginjakkan kakinya di dunia pendidikan formal, tapi kecintaannya pada sastra sangatlah tinggi, hati dan pikiranku beku sekita menyadari kepintarannya. Saat perempuan itu ceritakan kasih-kisah rakyat, saya membanyang sedang menonton sebuah film di bioskop.

“Kenapa dari dulu aku tidak belajar banya sastra dari perempuan itu?” Lagi-lagi saya menunjukkan kebodohan masa lalu saya. Seharusnya saya bisa belajar banyak dari perempuan itu.

Burung-burung merpati terbang dengan indah, melintasi saya yang sedang di duduk dilantai tiga masjid sambil mamandang indahnya gedung kampus UGM, fakultas filsafat menjulang, di sebalah selatannya ada fakultas Psikolgi dan Ilmu Budaya, di sebelah baratnya ada fakultas Ekonomi dan Bisnis. Burung-burung itu terbang mendekati saya, kerta kecil yang terbungkus dengan rapi ditambah bunga yang masih segar dan masih  harum, jatuh di dekat saya.


“Bagaimana kabarmu? Aku berharap baik-baik saja! Lama tak bercengkrama denganmu. Apakah kamu merindukannku? Kamu tidak usah mikirin aku, aku baik-baik aja kok. Kamu baik-baik aja di situ! Tapi aku ingin sampaikan, aku sedang sakit. terimakasih”

Hati saya mendung seketika, hujan air mata membasahi surat perempuan itu. Dekat menara masjid, saya menghadapkan pandangan kearah timur berharap Tuhan menurunkan keberkahan dari langit. Semoga perempuan itu baik-baik saja. Aamiin. Perempuan itu belum saatnya bagi saya untuk menyebutkan namanya. Biarkan perempuan itu menjadi misteri.

Dari kecil saya memang sudah dekat dengan sastra, hampir semua kisah yang sering diceritakan oleh perempuan itu saya ingat semua, walau masih lupa ingat. Kenapa Saya terlambat menyadari itu semua? Pertanyaan konyol kembali menganatui saya. Sudah, tak usah menghakimi kejahatan masa lalu. Saya sekarang telah menemukan surga, saya merasa tak sesepi seperti biasanya, karena saya sudah punya teman yang setia dan mencintai saya, yakni buku.

Sebelum semuanya terlambat, saya harus memperat hubungan saya dengan buku-buku. Kita tidak tahu kapan hayat ini masih bisa bersalaman, menyapa, dan bercengkrama dengan semesta.

“Kematianlah petualangan terindah dalam hidup ini, kita tak akan melewatinya lebih dari sekali. Karena itu pulalah kita harus mempersiapkan diri untuk perjalanan yang luar biasa itu”

Apakah hubungan ini akan tetap terjaga? Ataukah akan runtuh sewaktu-waktu?


Jogja, FIS, selasa 11 Februari 2020

Tulisan ini berawal dari keinginan saya untuk menuliskan kesimpulan hidup setiap hari, tapi saya tak tahu kenapa bisa mengalir seperti ini. Mungkin pembaca merasa kesal membaca tulisan ini, saya sama sekali tidak bertujuan untuk menulis seperti di atas. Saya minta maaf misalnya tulisannya tak seindah yang dibayangkan. Sekali lagi saya tidak bertujuan untuk menuliskan seperti ini. Mungkin ini yang di namakan “Merangkai dan menggoyangkan pena di atas kertas putih yang membelok”?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kereta Cinta belum Sampai

‘Tanah Cita-Cita”

Dialektika Perasaan