"Teman dalam Kesepian"


Ilustrasi : Rencongpost.com

"Aku kadang lupa aktivtas yang lain, dikala sedang bermain dengan kawanku (buku)"

Tamatlah kesedihan (sepi) yang selama ini melanda saya seorang diri. Tak ada keluarga, ayah, ibu, sanak saudara, hidup kita akan kering seperti gurun yang tak ada pohon untuk berteduh, tak ada air untuk diminum saat haus setelah lelah menempuh perjalan panjang. Jauh dari sanak saudara seolah hidup tak ada energi untuk melangkah maju, sepi, sepi, tanpa mereka.

Hidup ini sepertinya mengamini apa yang dikatakan oleh sang raja dangdut, lagu-lagunya mampu membuat hati tawa, bahagia, semangat, sedih, galau, bahkan tangisan yang tiada tara. “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga” kira-kira begitu kata beliau dalam lagunya yang berjudul ‘Kata Pujangga’. Iya, memang sepi tanpa keluargan dan sanak saudara di tanah orang.

Pada suatu kesempatan saya mengadakan diskusi lebih tepatnya Kajian Sastra yang berjudul “Romance : Membaca Sastra Klasik dan Kontemporer”. Diskusi itu langsung dipantik oleh mas Rony K. Pratama, sosok yang memiliki segudang teori, beliau mampu menggugah hati dan pikiran kami yang hadir, telinga kami bertambah lebar untuk mendengar, mata terbinar-binar, kepala seolah bergoyang sendiri. Unccch-Uncch.

Rony memang hidup di atas tumpukan buku-buku, lahir dan besar dari keluarnga yang cinta pada buku, membuat mindset dan mentalnya cemerlang. Interpretasi bodohnya saya, beliau mungkin lahir bersama buku. Wkwkwk.

“Sejarah tanpa Sastra itu kering, karena kita butuh imajinasi” kata Rony mengutip kalimat yang dipopuler oleh alumni Ilmu sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Coba sejenak kita bayangkan, kita akan membetulkan kalimat itu, bukan hanya sejarah, tapi kita yang suka baca buku-buku yang serius, seperti politik, ekonomi, de el el, butuh baca-an yang sastra untuk menetralkan hati dan pikiran yang terlalu serius menyerap baca-an yang kering.

Hidup juga seperti itu, butuh semua yang bisa menyembuhkan keringnya hati seperti tanaman yang telah lama tak dibasahi oleh pacarnya yang bernama air.

Tapi memang kalau kita bicara soal sepi, tak perlu ditanyakan lagi bagi mahasiswa atau pelajar seperti saya. Lima tahun merantau cukup membuat saya merasa sangat dekat dengan dia yang bernama “Sepi”. Sampai saat ini saya masih merantau, berusaha melihat bentangan daratan dan samudara yang katanya luas, di dalamnya tersimpan ribuan kenangan.

Kalau bicara rindu, ya pasti kami merasakannya, karena rindu sangat dekat dengan diri ini. Rindu pada teman, sahabat, keluarga, rumah, batu-batuan, sungai yang airnya jernih, sawah yang hijau, sepoi angin penyejuk, kedamaian alamnya, huuu segalanya saya rindukan. Rindu bukan perkara sepi, tapi rindu itu sifat alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Rindu itu hal biasa bagi saya, so tak perlu kaget. Hehehe

Kita perantau yang masih merasa kesepian, tamatkanlah sepi-mu seperti film-film yang di televesi yang sering membuat para penontonnya tak bisa menerima drama tragedy jenakanya, emang lucu sih, seperti tragedy film-film yang suguhkan tv Indosiar. Jangan biarkan sepimu tidur berlama-lama hingga singgah di hatimu, jangan!

So, kita semua punya banyak teman yang setia menghibur setiap hari, kita tak pernah tahu, kalau dia teman yang mampu mengalahkan segala se-galau yang kita nikmatin selama ini, Ik ben Moei (Bahasa Belanda : Aku Lelah). Teman itu tidak harus manusia sih, emang teman harus manusia ya?

Saya menolak kesepian dengan bernamain bersama teman yang bernama “Buku, pulpen, dan computer”. Kadang juga kita yang beragama mungkin bisa juga menjadikan Kitab agama sebagai teman, setiap kali bertemu dengannya hati selalu senang, kata temanku “Al-Qur’an itu teman yang menyembuhkan segala penyakit : Galau, sakit hati, ya segala penyakit yang tak bisa dilihat, seperti merasa sepi juga”. Bagi kita yang perantau harus menjadikan buku sebagai teman, di dalam buku terlukis sastra kita bersama keluarga, teman, dan segala kenangan.

“yang tanpa kusadari telah membantuku” tulisan Paulo Coelho di awal novelnya yang berjudul ‘Veronika Memutuskan Mati’. Walaupun itu ungkapan untuk seseorang yang sudanh membantunya. Tapi saya mecoba mengalihkannya menjadi sebuah motivasi bagi kita bahwa tanpa kita sadari, teman kita yang bernama buku telah membantu kita.

Yogyakarta, Fakultas Ilmu Sosial, 13 Febaruri 2020


Baca, tulis, dan diskusi lah, meskipun langit runtuh, kau akan tetap abadi_ PH.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menolak Passion

Kereta Cinta belum Sampai

Kebijaksanaan Berpikir